Pendiri KOMTAK
Dalam laman KOMTAK, tercatat bahwa Lieus Sungkharisma adalah Ketua Umum Multi Culture Society sekaligus Vice President The World Peace Committee.
Dalam laman KOMTAK, tercatat bahwa Lieus Sungkharisma adalah Ketua Umum Multi Culture Society sekaligus Vice President The World Peace Committee.
Lainnya:
- Aktif di dalam kegiatan kemasyarakatan sejak tahun 1985
- Ketua Umum Generasi Bhuddis Indonesia (GEMABUDHI) sejak tahun 1986.
- Ketua Dewan Penasihat DPP GEMABUDHI.
- Wakil Bendahara DEPINAS SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia) masa Kepemimpinan Prof. Dr. Suhardiman, SE Periode 1986 - 1991.
- Ketua Bidang Kemasyarakatan DPP AMPI masa kepemimpinan Wijanarko Puspoyo, MA.
- Bendahara Umum DPP KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) masa kepemimpinan Maulana Isman.
- Ketua DPP KNPI masa kepemimpinan Adyaksa Dault, SH.M.Si,
- Ketua Umum Kader Bela Negara Tingkat Nasional Angkatan I.
- Anggota Majilis Pemuda Indonesia (MPI)/Komite Nsional Indonesia (KNPI) sejak 1986 - 2000.
- Pada saat Reformasi bergulir 5 Juli 1998 mendirikan dan menjadi Ketua Umum Partai Reformasi Tionghoa Indonesia
Hanya saja, beberapa komentar dari pembaca pada laman tersebut membuat saya mengernyitkan dahi.
Ini Lieus Mafia Busuk selalu mengatas namakan orang2 Tionghoa , Masyarakat bisa salah persepsi thd orang2 Tionghoa dg segala Tingkah laku Lieus yg cenderung gak beres dan penuh intrik jahat dan mengambilkeuntungan personal. - Bob Subagio, 5 Agustus 2013 09.30.
Saya setuju dengan komentar Bob Subagio. Pak Lieus memang keturunan tionghua tapi tidak bisa seenaknya mengatas namakan orang2 Tionghua. Saya aja baru tahu ada yang namanya Lieus S ini sejak acara Debat Vs Anton Medan. - Dharman, 25 Oktober 2015 08.39.
Bisa jadi Lieus sangat kecewa dengan Ahok yg tidak bisa disogok dan disetir dan tidak dapat jatah bisnis...meskipun sama-sama Cina ..... bahkan beberapa bisnis kotornya tidak bisa jalan karena kebijakan Ahok ... makanya sontoloyo ini sangat benci Ahok - Budikoes, 31 Maret 2016 02.18
Rasanya Lieus ini pernah memimpin MAKIN (Majelis Agama Konghucu Indonesia), kenapa ada juga di organisasi Buddha? - Gareng Purnama, 12 April 2016 20.08
Umumnya saya tidak begitu memperhatikan komentar-komentar yang ada di suatu laman . Selain karena anonymous dan rentan disusupi dengan agenda pasukan nasi bungkus atau pasukan nasi padang, netralitas memang sangat susah ditemukan pada komentar yan tak disertai dengan data.
Tetapi, setelah melihat beliau langsung berada di antara ke-45 anggota pendiri Pergerakan Indonesia Maju, saya mulai tertarik dan penasaran. Komentar-komentar miring terhadap tokoh yang satu ini pun semakin memicu rasa penasaran saya pada kiprahnya, tentu saja termasuk agenda dan latar belakang politis yang membuatnya seolah-olah 'bunglon' yang hadir pada banyak organisasi.
Melawan Ahok, Lieus Ada Dimana-mana
Tetapi, setelah melihat beliau langsung berada di antara ke-45 anggota pendiri Pergerakan Indonesia Maju, saya mulai tertarik dan penasaran. Komentar-komentar miring terhadap tokoh yang satu ini pun semakin memicu rasa penasaran saya pada kiprahnya, tentu saja termasuk agenda dan latar belakang politis yang membuatnya seolah-olah 'bunglon' yang hadir pada banyak organisasi.
Melawan Ahok, Lieus Ada Dimana-mana
Di situs Era Muslim disebutkan bahwa Lieus, mengatasnamakan warga Glodok, kuatir dengan sepak terjang Ahok. Baginya, Ahok cukup sampai 2017 saja.
Tidak tanggung-tanggung, bahwa Lieus juga adalah tokoh yang berada di balik Gerakan “Lawan Ahok” (antitesis langung dari para relawan pendukung Ahok yakni Teman Ahok) . Lawan Ahok disebut terdiri dari masyarakat yang kecewa atas kebijakan Gubernur DKI Jakarta Ahok pada penertiban bantaran kali Ciliwung di Kampung Pulo, Jakarta Timur,. Mereka berencana membentuk tim kerja agar mantan Bupati Belitung Timur ini tidak terpilih kembali pada Pilkada 2017.
Lieus bersama Ratna Sarumpaet dan Jaya Suprana menyuarakan perlawanan terhadap Ahok dengan alasan bahwa sikap Ahok itu mengancam keberagaman di DKI.
“Kami akan bentuk tim kerja yang menargetkan agar Ahok tidak kembali memimpin Jakarta,” kata salah satu aktivis yang tergabung dalam Gerakan “Lawan Ahok” - Ratna Sarumpaet, di Tebet, 5 September 2015.
Gaya kepemimpinan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta yang kerap mengeluarkan pernyataan kontroversial dan sering mengeluarkan makian dipandang dapat mengancam keberagaman di ibukota Indonesia.
Konon Lieus sebelumnya merasa bangga ketika masa awal kepemimpinan Ahok. Namun, demi melihat pernyataan Ahok yang arogan dan mau menang sendiri akhir-akhir ini, Lieus menilai bahwa perilaku semacam ini malah menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat Pecinan di Glodok.
“Kalau seperti ini terus, Ahok cukup sampai 2017 saja,” Lieus, via RMOL Jakarta.
Sementara itu, Jaya Suprana tak tanggung-tanggung membuat surat terbuka untuk mengingatkan Ahok karena dengan tindakannya seperti sekarang, hal ini membuat warga Cina di Jakarta dan seluruh Indonesia cemas jika kerusuhan rasialis berkobar kembali, seperti pada peristiwa 98.
Saya tidak berada di Jakarta ketika peristiwa 98 terjadi. Tetapi demi mendengar kisah tragis berdarah yang disulut dengan kebencian rasialis yang membuat banyak teman-teman Cina saya banyak yang memilih "diam", jelas terbaca buat saya trauma sejarah yang tak ingin diulangi oleh siapapun. Alih-alih menuntaskan dalang sebenarnya di balik tragedi ini, mengaitkan gaya bicara dan karakter kepemimpinan seorang Ahok dengan ancaman pengulangan sejarah kelam ini, pun adalah sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh figur masyarakat manapun.
Lieus juga mengamini Yusron Ihza Mahendra, Duta Besar Indonesia untuk Jepang yang berkomentar melalui akun akun Twitter miliknya, @YusronIhza_Mhd pada 29 Maret 2016 lalu.
Kendatipun Yusron sendiri dikecam oleh banyak netizen secara luas, Lieus menyebut bahwa apa yang diungkapkan Yusron dalam akun twiternya itu adalah suatu nasehat yang semestinya ditanggapi dengan rasa syukur dan ucapan terima kasih oleh Ahok.
"Apa yang dikatakan Yusron itu benar. Ahok jangan arogan. Sebab kesombongannya itu bisa merugikan orang-orang Tionghoa lainnya. Ahok mestinya tau, tak semua orang Tionghoa di Indonesia ini kaya raya dan bisa melarikan diri ke luar negeri kalau terjadi sesuatu seperti di masa lalu. Sikap rendah hati itu bukan aib. Tapi mau membuka diri untuk menerima semua masukan dan nasehat. Jangan sombong dan menganggap diri paling hebat. Ingat lho, Ahok bisa jadi gubernur Jakarta karena dia dulu nempel sama pak Jokowi. Mestinya Ahok bersyukur masih ada orang mau mau mengingatkan dia. Bukan malah marah-marah," Lieus via Tribunnews.com, Kamis (31/3/2016).
Terkait polemik Sumber Waras, Lieus juga tidak ketinggalan untuk unjuk gigi. Lieus yakin bahwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terlibat dalam kasus pengadaan lahan Sumber Waras.
”Saya yakin Ahok kena, ini jangan main-main semua orang tahu Ahok banyak beking yang kuat. Kalau istilah BPK korupsi sempurna karena ada kerugian negaranya, mana bisa ngelit lagi,” Lieus, Senin 18 April 2016.
Lieus menaruh harapan yang tinggi pada KPK dan BPK untuk ini.
”BPK dan KPK tak bisa terpengaruh, Ahok ngimpi bisa lolos dari kasus Sumber Waras", Lieus.
Maka, ketika Ahok Batal Dipanggil Komisi III DPR RI, Lieus geram bukan main.
Terkait pembelian lahan RS Sumber Waras hingga reklamasi pantai utara Jakarta, belakangan ini Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama makin sering dikaitkan dengan kasus korupsi.
Namun belum lama ini Komisi III DPR RI membatalkan pemanggilan Ahok terkait dugaan korupsi kasus RS Sumber Waras, setelah kasus tersebut dinilai bukan merupakan ranah Komisi III DPR RI.
Lieus Sungkharisma, yang mulai merasa geram terhadap perlakuan ‘spesial’ yang diberikan kepada Ahok tidak bisa diam:
“Tiba-tiba saja Komisi III DPR RI, melalui Syarifuddin Suding dari Fraksi Hanura, justru menyatakan bahwa Komisi III menyerahkan sepenuhnya kasus korupsi RS Sumber Waras itu kepada KPK. Ini ada permainan apa lagi?” - Lieus.
Lieus menilai dalam rapat internal Komisi III DPR RI tidak ada satupun pembahasan terhadap kasus RS Sumber Waras. Padahal sebelumnya Komisi III begitu gencar ingin menguak kasus yang disebut-sebut merugikan negara hingga ratusan miliar rupiah tersebut.
Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, bulan lalu usai menggelar rapat dengar pendapat dengan elemen masyarakat, Komisi III DPR RI memang telah menyatakan akan memanggil Ahok terkait dugaan korupsi RS Sumber Waras. Dalam rapat tersebut, Lieus Sungkharisma ikut hadir dan sempat diusir oleh pimpinan rapat karena membuat kondisi yang tidak kondusif.
Lieus Sungkharisma sendiri menilai bahwa pihaknya sangat peduli terhadap kasus dugaan korupsi pembelian RS Sumber Waras, karena menurutnya rumah sakit tersebut merupakan salah satu sumbangsih warga Tionghoa Jakarta. RS itu awalnya dibangun oleh perhimpunan Sing Ming Hui atau Yayasan Perhimpunan Sosial Chandra Naya. Namun belakangan diambil alih secara sepihak oleh Kartini Mulyadi dan dijual ke Pemprov DKI Jakarta.
Sementar itu, Lieus pun menyinggung soal Teman Ahok. Sebab, mereka sangat pasang badan dalam kasus Sumber Waras. Menurut dia, Teman Ahok tidak bisa menerima kritik tentang keterlibatan Ahok dalam kasus tersebut.
Awal Mula "Kebencian" Lieus
Sejujurnya, melihat popularitas Ahok sebagai seorang etnis Cina dan beragama Kristen, wajar jika Lieus menempatkan diri sebagai barisan pendukung Ahok. Puluhan tahun warga Tionghoa (atau Cina, sama saja - ini BUKAN ungkapan rasis!) tidak melihat kehadiran salah satu dari mereka langung tanpa malu-malu menunjukkan identitas dan karakter yang jelas, hingga akhirnya Ahok muncul dan menarik perhatian seluruh warga Indonesia, bukan hanya DKI.
Lantas, apa yang memicu ekspresi Lieus yang terbaca sebagai antipati terhadap Ahok ini?
Kembali ke tahun 2013, ternyata Lieus yang tinggal di kawasan Fatmawati itu pernah melaporkan Ahok kala menjabat sebagai Wagub DKI Jakarta ke Polda Metro Jaya, terkait pembangunan proyek moda transportasi mass rapid transit (MRT).
"Kita laporkan Ahok terkait pembangunan MRT di Fatmawati, karena tidak sesuai dengaan janjinya saat kampanye," Lieus, 26 Juli 2013.
Berdasarkan Laporan Polisi Nomor: TBL/2504/VII/2013/PMJ/Ditreskrimsus, Ahok dituduh melakukan penipuan melalui internet, melanggar Pasal 28 ayat (1) UU Nomor 11 Tahun 2011 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
Kali ini, mengatasnamakan warga Fatmawati, Lieus menyebut bahwa warga kecewa terhadap Ahok yang menjanjikan akan membangun jalur MRT dengan sistem Subway saat kampanye Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta pada 2012.
Ahok pada kampanye saat itu melalui berbagai media cetak maupun elektronik, termasuk media online, menyampaikan janji untuk membangun MRT dengan sistem subway. Pada kenyataannya, Lieus menyatakan, Ahok membangun jalur MRT dengan sistem jalan layang.
Ahok pada 18 Juli lalu menyampaikan alasan perubahan kebijakan itu diambil. Berdasarkan kajian resmi, MRT Subway dapat menyebabkan harga karcis menjadi lebih mahal ketimbang MRT Layang.
"Memang betul layang itu mau hemat duit. Mahesh (Perwakilan Warga Fatmawati) itu kasih informasi ke kita seolah-seolah MRT semua subway itu bisa. Itulah info yang missed (terlewat) dia sampaikan ke kita sebelum kita masuk Jakarta. Dia bilang kalau memang uangnya cukup, lebih baik semua subway. Kan nggak perlu ada pembebasan lahan. Tapi kan uangnya ternyata nggak cukup nanti, akibatnya orang Jakarta pakai dengan harga lebih mahal. Ya kita pilih yang efeknya puluhan tahun dong," - Ahok.
Kalau dipikir-pikir sih, kedua orang ini menyampaikan alasan yang masuk akal, tetapi dengan kepentingan yang berbeda.
Sisi Lain Lieus
Mengapa Lieus seolah-olah ada di setiap pergerakan menentang kepemimpinan Ahok? Tidak ada yang tahu persis, tentu selain Lieus sendiri.
Tetapi beberapa fakta berikut mudah-mudahan bisa menjadi clue atau petunjuk untuk menilai Lieus, sikap antipatinya terhadap Ahok, atau bahkan bisa membantu kita mengenal siapa Ahok sebetulnya melalui Lieus.
Lieus, pria yang mengaku sebagai tokoh masyarakat dari etnis Tionghoa itu adalah mantan narapidana, seperti dikutip dari HarianIndo.Com.
Polisi pernah menetapkan Ketua Partai Reformasi Tionghoa Indonesia ini sebagai tersangka dalam kasus perusakan pagar pembatas tanah sengketa di RT 7 dan RT 8 RW 4 Mangga Besar Jakarta Barat. Ia dituding telah melanggar pasal 170 KUHP terkait perusakan yang dilakukan pada pagar pembatas di tanah sengketa. Perusakan itu dilakukan lantaran warga marah karena tanah seluas 1.700 meter persegi yang ditempati oleh 37 kepala keluarga itu dipagari. Padahal, tanah yang diklaim milik Zubaedah Pujiati itu masih dalam status quo.
Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jakarta Komisaris Polisi Hendro Pandowo mengatakan Lieus melanggar pasal 170 KUHP mengenai perusakan.
Tersangka lain dalam kasus itu adalah tiga warga, yaitu Saiful, Arifin dan Agus Sahroni. “Handoko, Suparman dan Agus Suratman sudah dilepaskan,” kata Lieus Sungkharisma, yang menjadi kuasa hukum warga, kepada Tempo. Lieus sendiri belum menentukan siapa yang akan menjadi kuasa hukumnya.
Sejak Minggu malam, Lieus bersama enam warga korban penggusuran di RT 7 dan 8 RW 4 Mangga Besar, Jakarta Barat, diperiksa Kepolisian Resor Jakarta Barat.
Mereka dituding melakukan perusakan pagar pembatas di atas tanah yang masih disengketakan pada Kamis (27/7).
Beberapa sumber menyebutkan bahwa Lieus ini merupakan “Pemain Tanah”. Seperti pada komentar berikut di forum Kaskus.
“Dia (Lieus Sungkharisma) pemain tanah di fatmawati pangpol … dia benci ama si ahok gara gara proyek mrt … itu bikin hancur pasaran tanah di pangpol … pangpol itu harga per meternya ngalahin menteng …. tapi langsung ambles gitu ada proyek mrt …trus aset dia di daerah hayam wuruk gajah mada juga kena kebijakan pemprov yang masalah parkir pinggir jalan … sampe dia bela belain jadi ketua forum tukang parkir buat demo…kl gw sih berpikir pakai logika aja … kita lihat pribadinya apakah dia orang benar atau tidak …. dia ada kasus di daerah mabes masalah tanah … belum lagi … ngakunya orang yang beragama BUDDHA … tapi dia ngebela kafe yang namanya BUDDHA BAR ….Sama kayak ngeliat HAJI LULUNG …. seorang yang ngakunya tokoh agama dari partai politik berdasarkan agama … kerjaannya malak parkir, minta jatah keamanan, sampah, dan kepala preman ….orang waras bisa tahu pribadi dan kualitasnya …. “ - Sumber yang tak bersedia disebutkan namanya.


